Jika Anda memutuskan untuk meneruskan pendidikan tinggi  Anda di Jerman, ada beberapa perbedaan sistem pendidikan tinggi yang diterapkan disana yang harus Anda ketahui. Sesuai dengan pengalaman kami selama disana, kuliah S2 jurusan Electrical Power Engineering, di RWTH Aachen, Jerman, Saya akan rangkumkan beberapa perbedaan tersebut sebagai berikut:

Sistem SKS versus ECTS

Seperti kita ketahui bersama, sistem pendidikan tinggi di Indonesia menggunakan sistem SKS (Satuan Kredit Semester). SKS menunjukkan beban studi tiap minggu selama satu semester. Biasanya untuk menyelesaikan satu program Magister di Indonesia, contohnya Magister Teknik Elektro ITS Surabaya, memerlukan total 40 sks.

 

Sedangkan di Jerman, selain mengenal istilah SWS (Semesterwochenstunden) yang berarti jam per minggu, digunakan juga istilah ECTS (European Credit Transfer and Accumulation System) atau lebih praktisnya sering disebut Credit Point.  ECTS merupakan standar yang ditetapkan bagi negara-negara Eropa dan Uni Eropa untuk membandingkan pencapaian hasil belajar dan kinerja mahasiswa.

Kebijakan tiap Universitas di Jerman bisa berbeda-beda. Di tempat kami belajar, perhitungan ECTS nya untuk Mata Kuliah Umum dan Latihan-latihan adalah 1,5 kredit per SWS, sedangkan untuk Mata Kuliah Praktikum adalah 1 kredit per SWS. Dan total yang diperlukan untuk menyelesaikan program Master jurusan Electrical Power Engineering di RWTH Aachen ini adalah sebanyak 57 SWS atau setara 126 ECTS.

Tampaknya hanya penyebutan istilah saja yang berbeda. Pada prakteknya, baik di Indonesia maupun di Jerman, sama-sama memberlakukan pembobotan lamanya waktu belajar per semester yang berbeda untuk masing-masing mata kuliah nya, baik mata kuliah umum, praktikum maupun thesisnya.

Perkuliahan

Yang menarik, tidak ada lagi perlakuan absensi untuk perkuliahan di Jerman. Adalah hak mahasiswa sendiri untuk mengikuti atau tidak mengikuti perkuliahan. Mungkin memang sudah seharusnya. Saya yakin di Universitas luar negeri lainnya juga begitu. Untuk tingkat pendidikan tinggi setingkat S2, disiplin sudah tidak perlu dipaksakan lagi bukan? Sayangnya tidak begitu yang berlaku di Indonesia. Pihak Universitas masih harus memaksakan kehadiran minimal 70% agar mahasiswa bisa mengikuti UTS/UAS, seperti pengakuan teman Saya yang mengambil S2 Magister Teknik Informatika di ITS Surabaya.

Yang tidak kalah menarik, pada kurikulum S2 di tempat kami belajar, terdapat program ekskursi atau kunjungan ke perusahaan yang merupakan salah satu persyaratan wajib untuk dapat menyelesaikan program Master ini. Tidak perlu repot mencari sendiri perusahaan yang sekiranya bisa dikunjungi. Pihak jurusan dalam beberapa kesempatan selalu menawarkan kepada mahasiswa jika ada program ekskursi yang akan diadakan. Biasanya kalau tempatnya didalam kota saja, semua biaya ditanggung jurusan, alias gratis. Lain halnya jika perusahaan tersebut ada diluar kota atau bahkan di luar negeri yang memerlukan akomodasi, biasanya mahasiswa baru diminta kontribusinya. Tapi biasanya tidak full, mungkin hanya separuhnya saja.

Excursion ke perusahaan listrik Areva di Monchengladbach, Jerman

Di Indonesia sepengetahuan Saya juga demikian adanya. Ekskursi juga terdapat pada kurikulum pendidikan S2 di negeri ini. Dan tidak mau kalah, bahkan ada Universitas yang memprogramkan ekskursinya sampai ke luar negeri juga.  Akan tetapi, ada kelebihan yang menjadi nilai tambah jika Anda bersekolah di Jerman tentunya. Karena kebanyakan perusahaan-perusahaan yang dijadikan tujuan ekskursi disana biasanya merupakan produsen besar bertaraf internasional dengan teknologinya yang mutakhir. Yang mungkin di Asia hanya ada anak cabang perusahaan tersebut.

Ujian Semester dan Sistem Penilaian

Pada akhir periode satu semester, mahasiswa akan menghadapi ujian. Kalau seperti di Indonesia namanya Ujian Akhir Semester (UAS). Disana tidak ada Ujian Tengah Semester (UTS) lho, paling hanya drill latihan-latihan soal-soal ujian saja untuk persiapan menghadapi UAS nya. Sebelumnya, mahasiswa mendaftarkan ke pihak jurusan mata kuliah apa saja yang akan mereka ambil untuk diujikan.

Ujian-ujian  di Universitas Jerman sedikit agak berbeda dengan kebanyakan ujian semester di Indonesia. Disini, umumnya ada 2 cara pengujian yang berbeda untuk tiap-tiap mata kuliah. Ada mata kuliah yang ujiannya tertulis (biasanya yang banyak perhitungan matematisnya), dan ada juga yang ujian lesan (untuk mata kuliah yang banyak teoritisnya).

Uniknya, tiap mata kuliah ada batas uji nya, yaitu maksimal 3 kali. Misalnya Anda gagal dalam ujian lesan satu mata kuliah, Anda masih punya kesempatan untuk mengulang ujian tersebut 2 kali lagi. Dan kalau itu ujian tertulis, total kesempatan ada 6 kali. Lho kok? Iya, pertama kali Anda gagal ujian tulis, biasanya beberapa hari kemudian Anda akan diberi kesempatan untuk ujian lesan mata kuliah tersebut. Anda masih gagal lagi, Anda boleh mengulang ujian tulis lagi di semester depan, jika masih gagal, ujian lesan lagi, dan begitu seterusnya. Tapi jangan terlalu gembira dulu, karena begitu tingginya standar kelulusan disana, banyak juga yang baru bisa lulus suatu mata kuliah sampai 3 atau 4 kali ujian tulis dan lesan begitu.

Konsekuensi yang lain lagi cukup mengerikan. Jika sampai Anda tidak lulus disemua kesempatan yang ada, walaupun 1 mata kuliah itu saja, Anda tidak diperbolehkan lagi meneruskan studi Anda. Semua hasil yang lalu tidak akan diperhitungkan, dan Anda dianggap gagal total. Tidak cukup sampai disitu, Anda tidak akan bisa mengambil kuliah di jurusan yang sama (khususnya jurusan yang ada nama mata kuliah yang Anda ambil gagal tersebut) di seluruh Jerman.

Kejadian ini pernah dialami oleh kolega kami yang kuliah di Aachen juga. Hingga akhirnya dia harus kuliah dari awal lagi dan mengambil jurusan yang benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Jadi terkadang, masa-masa ujian merupakan masa-masa mendebarkan bagi kami. Pernah sekali dalam perkumpulan sosial kami sesama orang-orang Indonesia, kami membicarakan seseorang yang sedang mengalami ujian kesempatan terakhirnya. Saya teringat bagaimana saya ikut terus memantau kabar terbarunya, apakah dia akhirnya lulus atau tidak. Rasa kekeluargaan ini membuat kami merasa ikut menjadi bagian dari perasaan gelisah itu. Dan jika akhirnya dia berhasil, kami pun ikut terharu.

Bagaimana jika Anda merasa tidak siap pada ujian yang sudah terlanjur didaftarkan untuk diujikan semester itu? Jangan khawatir. Anda akan diberikan kesempatan menunda ujian yang sudah didaftarkan, tanpa terhitung kehilangan 1 kali kesempatan uji nya. Itu bisa terjadi jika Anda sedang dalam keadaan sakit dan dapat menunjukkan surat dokter untuk itu. Bukannya menyarankan hal yang sama, akan tetapi sudah menjadi rahasia umum disini, jika Anda terlalu ragu untuk melanjutkan ujian mata kuliah itu (biasanya mata kuliah yang paling sulit), di detik-detik akhir pun Anda bisa dijinkan untuk menundanya dengan surat dokter tersebut.

Perbedaan lain yang menonjol adalah penilaiannya. Nilai terbaik setara A di Indonesia justru di Jerman ditunjukkan dengan nilai 1,0. Secara internasional, sistem penilaian di Universitas Jerman diakui dengan konversi sebagai berikut:

Akan tetapi, untuk konversi dengan sistem pendidikan di Indonesia, informasi dari Magister Manajemen Universitas Gajah Mada ini bisa dijadikan patokan. Berikut tabelnya:

No Nilai MM UGM
1 1,0 s/d 1,5 A
1 1,6 s/d 2,3 A-
2 2,4 s/d 2,9 B+
3 3,0 s/d 3,5 B
4 3,6 s/d 4,0 C
5 4,1 s/d 5,0 gagal

Sumber : www.mmugm.ac.id

Kerja Praktek

Dalam kurikulum program Master di Jerman, umumnya ada internship atau kerja praktek di perusahaan. Lamanya 3 bulan. Jika Anda sebelumnya ditanah air sudah pernah bekerja, atau masih bekerja dan disekolahkan perusahaan, Anda dapat melewati kewajiban yang satu ini. Lumayan lho untuk mempersingkat waktu kuliah Anda.

Syaratnya Anda diharuskan memberikan surat keterangan pernah atau sedang bekerja, dan juga memberikan laporan tertulis tentang peran dan tanggung jawab serta job description Anda selama bekerja tersebut. Biasanya yang bisa diterima oleh pihak jurusan, terutama yang pekerjaannya selama di Indonesia memang berhubungan dengan jurusan kuliah yang diambil saat ini.

Thesis

Mengimbangi kompleksnya penyusunan tugas akhir dalam bahasa selain bahasa ibu kita, di Jerman kita tidak perlu lagi mencari judul thesis sendiri. Semua sudah disediakan oleh pihak jurusan, kita tinggal memilih sesuai dengan minat dan kemampuan kita.

Bukan itu saja, semua itu komplit dengan asisten professor yang siap membantu kita untuk berkonsultasi selama pembuatan thesis tersebut. Bahkan yang detail sekalipun, format penulisan sudah diberikan dalam bentuk Microsoft Word. Wah, Anda akan dimanjakan sekali. Memang sih waktu pengerjaan thesis ditentukan, hanya 4 bulan. Akan tetapi, dengan segala fasilitas yang ada, masa iya sih Anda tidak mampu melakukannya?

Nah, kurang lebih itulah perbedaan-perbedaan pendidikan di Jerman dengan di Indonesia. Bagaimana menurut Anda? Berani mengikuti jejak kami? Selamat berjuang!